Jumat, 09 Oktober 2015


 Heyy!! Assalamu'alaikum wr. wb
Kali ini aku mau bagiin makalah tentang Adm. Perkantoran, tapi maaf2 aja nihh. makalahnya masih berantakan, karenaaa ini bikinnya waktu masih baru-baru keals X. Yaaa jadi gitu dehh. hahaha
 Oke, check it out aja langsung!! Semoga bermanfaat :)






Nama Kelompok:
¨    Ajeng Widyastuti
¨    Asiah
¨    Deananda Julyanisa
¨    Herdiani
¨    Meta Valentiningsih
¨    Ratna Komalasari
¨    Savira Azkiah


hbvg.jpgArtikel Administrasi Perkantoran
     Secara etimologis, administrasi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata ad yang berarti intensif dan ministraire yang berarti to serve (melayani).
         Secara ilmu, administrasi adalah suatu proses yang pada umumnya terdapat pada semua usaha kelompok Negara atau swasta.




Pengertian Administrasi Perkantoran dalam arti luas

           Administrasi dalam arti luas adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan dalam struktur dengan mendayagunakan sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.


uhdwadg.jpgPengertian Administrasi dalam arti sempit

          Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain.



Kesimpulan

Administrasi Perkantoran   adalah suatu kegiatan penyusunan dan pencatatan data secara sistematis untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.


Jumat, 11 September 2015

assalamu'alaikum, hallo!!!
sekaran aku ngeshare pelajran sejarah indonesia tentang Mengenal manusia purba^^
maaf ya rebeeek, ini waktu masih baru-baru bikin makalah, masih amatiran belum baguss. wkwk.
semoga bermanafaat yaaa 



Sejarah Indonesia


Mengenal Manusia Purba

·  Aliana Zesariani Putri
·  Deananda Julyanisa
·  Ega Angeliana Putri
·  Meta Valentiningsih
·  Ratna Komalasari
·  Savira Azkiah

X AP 1
SMK AL-MUHTADIN


KATA PENGANTAR
           
Puji syukur tak henti-hentinya kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan bernafas menghirup gas O2 dan menghembuskan gas CO2, sehingga kita masih bisa berdiri di atas bumi yang penuh dengan berbagai cpitaan dari Allah SWT. Begitupun kita tak lupa mengirimkan shalawat dan salam kepadda nabi Muhammad SAW. Yang telah membukakan kita pintu menuju jalan yang disinari oleh cahaya yang terang bendrang.
       Ucapan terima kasih pula saya ucapkan kepada dosen pembimbing dalam makalah “Sejarah Manusia Purba” yang telah memberikan saya arahan dalam mempelajari makalah ini. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pola kehidupan dari manusia purba, mulai dari sistem sosial prekonomian, sosial budaya, kepercayaan, dan pola berburu dan mengumpulkan makanan.
Daftar Isi:
·    Kata Pengantar
·    Daftar isi
·    Sistem Kepercayaan Manusia Purba
-Masa Berburu
-Masa Perundagian
·    Sistem Budaya Manusia Purba
-Kehidupan Sosial Budaya
·    Contoh Gambar
·    Pola Berburu dan Meramu/Bercocok Tanam
-Sebab hidup Berpindah-pindah
-Masa Pertanian
·    Penutup
·    Daftar Pustaka

A.Sistem Kepercayaan Manusia Purba

Sebagai makhluk yang mendiami bumi, tentunya memiliki pemikiran bahwa siapakah yang menciptakan dunia ini dan segala isinya? Serta yang menciptkan kita siapa? Dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan manusia purba memiliki sistem kepercayaan yang mereka anggap sebagai pencipta mereka. Berikut ini akan dijelaskan mengenai sistem kepercayaan manusia purba.

1.Masa Berburu
   Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah kepada roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh dunia.
   Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan berupa tugu-tugu batu/bangunan megalitikum yang letaknya di puncak bukit. Terdapat peninggalan yang berhubungan dengan kepercayaan, yaitu kebudayaan batu besar seperti menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, arca, serta punden berundak
    Kepercayaan masyarakat pada masa ini diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi Megalitikum/upacara keagamaan, persembahan kepada dewa dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda milik pribadi ke kuburnya.
    Terdapat kepala suku yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab penuh terhadap kelompok sukunya. Roh nenek moyang selalu mengawasi kelompok masyarakatnya. Kepala suku berhak mengambil keputusan apapun.
    Adanya bangunan megalit menunjukkan bahwa pemujaan roh nenek moyang mempunyai tempat penting dalam kehidupan rohani. Pada masa itu telah ada pula upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan atau agama.

2. MASA PERUNDAGIAN
       Keberhasilan segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural oleh karena itu setiap usaha harus dimulai dengan upacara khusus untuk mendapatkan restu dari nenek moyang.
         Dalam seni lukisan semakin menggambarkan kehidupan beragama yang menetap. Lukisan tersebut dimaksudkan untuk memuja roh nenek moyang. Pada masa ini golongan ulama memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, sebab mereka adalah orang yang menghubungkan antara dunia dengan kekeuatan gaib.



B. Sistem Budaya Manusia Purba

Kehidupan Sosial Budaya
Untuk memperoleh hasil kehidupan sosial budaya pada masa purba, kita peroleh dari hasil penelitian peninggalan-peninggalan berupa kuburan yang berasal dari zaman perundagian. Dari kuburan tersebut diketahui adanya orang-orang tertentu yang dikuburkan secara upacara khusus. Cara penguburan yang khusus dapat dilihat dari cara penempatan mayat dalam kuburan peti batu, sarkofagus (tempat khusus). Upacara khusus dapat dilihat dari jenis bekal kubur yang terdapat dalam kuburan-kuburan itu.
Dari penelitian dapat kita ketahui bahwa ada orang-orang yang dapat diperlakukan khusus setelah mereka meninggal. Dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan terkemuka dalam masyarakat. Dari perlakuan khusus terdapat tokoh-tokoh tertentu, maka dikatakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki norma-norma dalam kehidupan, terutama sikap menghargai kepemimpinan seseorang. Norma-norma tersebut tentunya telah tumbuh dan berkembang dalam masa berabad-abad.
Kehidupan pada masa perundagian diliputi perasaan solidaritas yang tertanam dalam sanubari tiap warga masyarakat sebagai warisan nenek moyang. Sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan yang kuat, maka kebebasan individu agak terbatas, karena pelanggaran yang dilakukan dianggap membahayakan masyarakat. Kalau ada orang memiliki kekayaan lebih dari orang lain, kebanyakan ia adalah seorang kepala suku atau mereka adalah orang-orang yang berkedudukan penting dalam masyarakat.
Pada masa itu kepemimpinan dan pemujaan kepada suatu yang suci di luar diri manusia dan hal ini dikuasai oleh suatu yang lebih tinggi. Dalam masyarakat mulai jelas ada pembedaan golongan-golongan tertentu seperti golongan pengatur upacara, golongan petani, golongan pedagang dan para pembuat benda dari logam.
Upacara bersifat pemujaan ada juga yang berhubungan dengan peranan laut. Sebagai bangsa yang telah lama mengarungi laut. Di samping pemujaan leluhur yang telah dilakukan di punden-punden batu berundak, ada pula upacara di laut. Mungkin upacara yang sekarang masih dilakukan oleh para nelayan yang berhubungan dengan laut masih mengandung unsur yang menggambarkan keadaan masa lampau. Misalnya selamatan yang berhubungan dengan pembuatan perahu dan sebagainya.
Keterangan pertama tentang kapak perunggu diberitakan Ramphius pada awal abad ke-18. Sejak sertengahan abah ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal-usulnya oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap.
 Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara.

C. Pola Berburu dan Meramu/Bercocok Tanam

Manusia prasejarah pada waktu berburu dan mengumpulkan makanan menghadapi berbagai kesulitan. Keadaan alam masa itu masih liar dan keadaan bumi belum stabil.
Mereka hidup berpidah-pindah tempat, mencari daerah yang dapat menghasilkan makanan. Karena sulitnya mencari bahan makanan, pertumbuhan populasi mereka sangat sedikit dan banyak yang mati dan akhirnya punah. Seperti diketahui, alat-alat pada zaman Paleolithikum terdiri atas kapak-kapak genggam dan alat dari tulang atau tanduk rusa yang berbentuk belati dan ada pula alat dari tulang yang sisinya bergerigi dan dipergunakan untuk ujung tombak. Alat-alat itu dipergunakan untuk berburu atau menangkap ikan. 
    Hewan-hewan yang diburu antara lain rusa, kuda, babi hutan, kijang, kerbau, kera, gajah, kuda nil, dan beberapa jenis hewan buas lainnya. Suatu cara berburu mereka antara lain dengan membuat lubang-lubang jebakan atau menggiring hewan ke arah jurang yang terjal.

Kelompok berburu terdiri atas keluarga kecil dengan pembagian tugas yaitu: yang laki-laki melakukan pemburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan kecil yang tidak memerlukan tenaga besar.

Untuk menghadapi kemungkinan bahaya, mereka hidup berkelompok dan berlindung dalam gua-gua. Bahaya itu datang dari serangan binatang-binatang buas yang diburunya atau bencana alam yang sering terjadi, seperti letusan gunung berapi.
Masyarakat telah mengenal api, mereka menyalakan dan memeliharanya. Api ternyata bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk berbagai keperluan.
Pada masyarakat food gathering, mereka sangat menggantungkan diri pada alam. Dimana daerah yang mereka tempati harus dapat memberikan persediaan yang cukup untuk kelangsungan hidup.
Sebab mereka hidup berpindah-pindah adalah sebagai berikut:
·       Binatang buruan dan umbi-umbian semakin berkurang di tempat yang mereka diami.
·       Musim kemarau menyebabkan binatang buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik.
·       Mereka berusaha menemukan tempat dimana kebutuhan mereka tersedia lebih banyak dan mudah diperoleh.
·       Mereka masih hidup mengembara. Tempat tinggal sementara di gua-gua. Ada pula kelompok yang tinggal di daerah pantai
·       Mencari makanan berupa binatang buruan dan tumbuh-tumbuhan liar di tepi sungai atau danau. Mereka mencari kerang sebagai makanannya.
·       Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan pergerakan dalam mengikuti binatang buruan/ mengumpulkan makanan.
·       Populasi pertumbuhan penduduk sangat kecil karena situasi yang berat, dengan peralatan yang masih sanagat primitif membuat mereka tidak dapat selamat dari berbagai bahaya.

MASA PERTANIAN
·       Bertani adalah mata pencahariannya. Mulai membudidayaakan tanaman dan hewan peliharaan tertentu seperti membudidayakan tanaman padi dan memelihara kerbau sebagai hewan ternak
·       Mereka sudah berladang, dalam bekerja mereka melakukan secara gotong-royong.
·       Untuk mengisi waktu menunggu musim panen tiba mereka membuat anyaman dari bambu/ rotan
·       Mendiami tempat-tempat kecil dengan tujuan untuk menghindari serangan binatang buas
·       Mulai mendirikan rumah sebagai tempat berteduh dengan cara bergotong-royong yang disertai dengan upacara tradisional.


PENUTUP
            Dengan berakhrnya pembahasan dari pola berburu dan meramu makanan, maka berakhir pula materi dalam makalah ini. Apabila dalam makalh ini terdapat kesalahan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena mungkin dalam makalah ini terdapat keslahan, tapi iinilah yang dapat saya berikan kepada para pembaca sekalian. Saya ini hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahhan, jjika memang terdapat kesalahan, saya mohon saran dan nasehat sehat dari para pembaca sekalian agar makalah kedepannya bisa lebih sempurna.






DAFTAR PUSTAKA
http://gracieuxnoelove.blogspot.com/2014/04/makalah-sejarah-kehidupan-manusia-purba.html
Wikipedia.com