X AP 1
SMK AL-MUHTADIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur tak henti-hentinya kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan kita kesempatan bernafas menghirup gas O2 dan menghembuskan gas CO2,
sehingga kita masih bisa berdiri di atas bumi yang penuh dengan berbagai
cpitaan dari Allah SWT. Begitupun kita tak lupa mengirimkan shalawat dan salam
kepadda nabi Muhammad SAW. Yang telah membukakan kita pintu menuju jalan yang
disinari oleh cahaya yang terang bendrang.
Ucapan terima kasih pula saya
ucapkan kepada dosen pembimbing dalam makalah “Sejarah Manusia Purba” yang
telah memberikan saya arahan dalam mempelajari makalah ini. Dalam makalah ini
akan dijelaskan mengenai pola kehidupan dari manusia purba, mulai dari sistem
sosial prekonomian, sosial budaya, kepercayaan, dan pola berburu dan
mengumpulkan makanan.
Daftar Isi:
·
Kata Pengantar
·
Daftar isi
·
Sistem Kepercayaan Manusia Purba
-Masa Berburu
-Masa Perundagian
·
Sistem Budaya Manusia Purba
-Kehidupan Sosial Budaya
·
Contoh Gambar
·
Pola Berburu dan Meramu/Bercocok Tanam
-Sebab hidup Berpindah-pindah
-Masa Pertanian
·
Penutup
·
Daftar Pustaka
A.Sistem Kepercayaan Manusia Purba
Sebagai makhluk yang mendiami bumi, tentunya memiliki
pemikiran bahwa siapakah yang menciptakan dunia ini dan segala isinya? Serta
yang menciptkan kita siapa? Dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan
manusia purba memiliki sistem kepercayaan yang mereka anggap sebagai pencipta
mereka. Berikut ini akan dijelaskan mengenai sistem kepercayaan manusia purba.
1.Masa
Berburu
Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah
kepada roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh
dunia.
Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan
terhadap roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan berupa tugu-tugu batu/bangunan
megalitikum yang letaknya di puncak bukit. Terdapat peninggalan yang
berhubungan dengan kepercayaan, yaitu kebudayaan batu besar seperti menhir,
dolmen, sarkofagus, waruga, arca, serta punden berundak
Kepercayaan masyarakat pada masa ini
diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi Megalitikum/upacara keagamaan,
persembahan kepada dewa dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda
milik pribadi ke kuburnya.
Terdapat kepala suku yang memiliki
kekuasaan dan tanggungjawab penuh terhadap kelompok sukunya. Roh nenek moyang
selalu mengawasi kelompok masyarakatnya. Kepala suku berhak mengambil keputusan
apapun.
Adanya bangunan megalit menunjukkan bahwa
pemujaan roh nenek moyang mempunyai tempat penting dalam kehidupan rohani. Pada
masa itu telah ada pula upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan atau
agama.
2. MASA PERUNDAGIAN
Keberhasilan
segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural oleh karena itu
setiap usaha harus dimulai dengan upacara khusus untuk mendapatkan restu dari
nenek moyang.
Dalam seni
lukisan semakin menggambarkan kehidupan beragama yang menetap. Lukisan tersebut
dimaksudkan untuk memuja roh nenek moyang. Pada masa ini golongan ulama
memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, sebab mereka adalah orang
yang menghubungkan antara dunia dengan kekeuatan gaib.
B. Sistem
Budaya Manusia Purba
Kehidupan Sosial Budaya
Untuk
memperoleh hasil kehidupan sosial budaya pada masa purba, kita peroleh dari
hasil penelitian peninggalan-peninggalan berupa kuburan yang berasal dari zaman
perundagian. Dari kuburan tersebut diketahui adanya orang-orang tertentu yang
dikuburkan secara upacara khusus. Cara penguburan yang khusus dapat dilihat
dari cara penempatan mayat dalam kuburan peti batu, sarkofagus (tempat khusus).
Upacara khusus dapat dilihat dari jenis bekal kubur yang terdapat dalam
kuburan-kuburan itu.
Dari
penelitian dapat kita ketahui bahwa ada orang-orang yang dapat diperlakukan
khusus setelah mereka meninggal. Dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang
yang memiliki kedudukan terkemuka dalam masyarakat. Dari perlakuan khusus
terdapat tokoh-tokoh tertentu, maka dikatakan bahwa masyarakat pada masa itu
telah memiliki norma-norma dalam kehidupan, terutama sikap menghargai
kepemimpinan seseorang. Norma-norma tersebut tentunya telah tumbuh dan
berkembang dalam masa berabad-abad.
Kehidupan
pada masa perundagian diliputi perasaan solidaritas yang tertanam dalam
sanubari tiap warga masyarakat sebagai warisan nenek moyang. Sebagai akibat
adat kebiasaan dan kepercayaan yang kuat, maka kebebasan individu agak
terbatas, karena pelanggaran yang dilakukan dianggap membahayakan masyarakat.
Kalau ada orang memiliki kekayaan lebih dari orang lain, kebanyakan ia adalah
seorang kepala suku atau mereka adalah orang-orang yang berkedudukan penting
dalam masyarakat.
Pada masa
itu kepemimpinan dan pemujaan kepada suatu yang suci di luar diri manusia dan
hal ini dikuasai oleh suatu yang lebih tinggi. Dalam masyarakat mulai jelas ada
pembedaan golongan-golongan tertentu seperti golongan pengatur upacara, golongan
petani, golongan pedagang dan para pembuat benda dari logam.
Upacara bersifat
pemujaan ada juga yang berhubungan dengan peranan laut. Sebagai bangsa yang
telah lama mengarungi laut. Di samping pemujaan leluhur yang telah dilakukan di
punden-punden batu berundak, ada pula upacara di laut. Mungkin upacara yang
sekarang masih dilakukan oleh para nelayan yang berhubungan dengan laut masih
mengandung unsur yang menggambarkan keadaan masa lampau. Misalnya selamatan
yang berhubungan dengan pembuatan perahu dan sebagainya.
Keterangan
pertama tentang kapak perunggu diberitakan Ramphius pada awal abad ke-18. Sejak
sertengahan abah ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal-usulnya
oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap.
Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi
dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara.
C. Pola Berburu
dan Meramu/Bercocok Tanam
Manusia prasejarah pada waktu berburu dan mengumpulkan
makanan menghadapi berbagai kesulitan. Keadaan alam masa itu masih liar dan
keadaan bumi belum stabil.
Mereka hidup berpidah-pindah tempat, mencari daerah
yang dapat menghasilkan makanan. Karena sulitnya mencari bahan makanan,
pertumbuhan populasi mereka sangat sedikit dan banyak yang mati dan akhirnya
punah. Seperti diketahui, alat-alat pada zaman Paleolithikum terdiri atas
kapak-kapak genggam dan alat dari tulang atau tanduk rusa yang berbentuk belati
dan ada pula alat dari tulang yang sisinya bergerigi dan dipergunakan untuk
ujung tombak. Alat-alat itu dipergunakan untuk berburu atau menangkap ikan.
Hewan-hewan yang diburu antara lain
rusa, kuda, babi hutan, kijang, kerbau, kera, gajah, kuda nil, dan beberapa
jenis hewan buas lainnya. Suatu cara berburu mereka antara lain dengan membuat
lubang-lubang jebakan atau menggiring hewan ke arah jurang yang terjal.
Kelompok berburu terdiri atas keluarga kecil dengan pembagian tugas yaitu: yang
laki-laki melakukan pemburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan,
tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan kecil yang tidak memerlukan tenaga besar.
Untuk menghadapi kemungkinan bahaya, mereka hidup
berkelompok dan berlindung dalam gua-gua. Bahaya itu datang dari serangan
binatang-binatang buas yang diburunya atau bencana alam yang sering terjadi,
seperti letusan gunung berapi.
Masyarakat telah mengenal api, mereka menyalakan dan
memeliharanya. Api ternyata bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk berbagai
keperluan.
Pada masyarakat food gathering, mereka sangat
menggantungkan diri pada alam. Dimana daerah yang mereka tempati harus dapat
memberikan persediaan yang cukup untuk kelangsungan hidup.
Sebab mereka hidup berpindah-pindah adalah sebagai berikut:
·
Binatang buruan dan umbi-umbian
semakin berkurang di tempat yang mereka diami.
·
Musim kemarau menyebabkan binatang
buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik.
·
Mereka berusaha menemukan tempat
dimana kebutuhan mereka tersedia lebih banyak dan mudah diperoleh.
·
Mereka masih hidup mengembara.
Tempat tinggal sementara di gua-gua. Ada pula kelompok yang tinggal di daerah
pantai
·
Mencari makanan berupa binatang buruan
dan tumbuh-tumbuhan liar di tepi sungai atau danau. Mereka mencari kerang
sebagai makanannya.
·
Mereka hidup dalam kelompok-kelompok
kecil untuk memudahkan pergerakan dalam mengikuti binatang buruan/ mengumpulkan
makanan.
·
Populasi pertumbuhan penduduk sangat
kecil karena situasi yang berat, dengan peralatan yang masih sanagat primitif
membuat mereka tidak dapat selamat dari berbagai bahaya.
MASA PERTANIAN
·
Bertani adalah mata pencahariannya.
Mulai membudidayaakan tanaman dan hewan peliharaan tertentu seperti
membudidayakan tanaman padi dan memelihara kerbau sebagai hewan ternak
·
Mereka sudah berladang, dalam
bekerja mereka melakukan secara gotong-royong.
·
Untuk mengisi waktu menunggu musim
panen tiba mereka membuat anyaman dari bambu/ rotan
·
Mendiami tempat-tempat kecil dengan
tujuan untuk menghindari serangan binatang buas
·
Mulai mendirikan rumah sebagai
tempat berteduh dengan cara bergotong-royong yang disertai dengan upacara
tradisional.
PENUTUP
Dengan berakhrnya pembahasan dari
pola berburu dan meramu makanan, maka berakhir pula materi dalam makalah ini.
Apabila dalam makalh ini terdapat kesalahan saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya, karena mungkin dalam makalah ini terdapat keslahan, tapi
iinilah yang dapat saya berikan kepada para pembaca sekalian. Saya ini hanyalah
manusia yang tak luput dari kesalahhan, jjika memang terdapat kesalahan, saya
mohon saran dan nasehat sehat dari para pembaca sekalian agar makalah
kedepannya bisa lebih sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
http://gracieuxnoelove.blogspot.com/2014/04/makalah-sejarah-kehidupan-manusia-purba.html
Wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar